Rabu, 23 November 2016

cerpen 2

Pesan Cinta Untukmu

Inilah aku sekarang, berdiri dihadapan semua orang banyak sebagai salah satu mahasiswa yang memenangkan Olimpiade Matematika Nasional. Perkenalkan " Hanifah Jauza Asna" dialah mahasiswi dari latar belakang anak yatim piatu yang selalu berjuang untuk bisa memenangkan perlombaan yang selalu bergengsi dikalangan pelajar.
" Aku berjuang sampai detik ini hanya untuk kedua orang tuaku yang tlah tiada", ujarku di depan audience.
" Dulu aku hanya bermimpi, suatu hari aku bisa berdiri dihadap mereka. Bukan sebagai mahasiswa yang tak taat aturan, melainkan aku bisa berdiri sebagai mahasiswa yang mendapatkan penghargaan olimpiade matematika, seperti yang dilakukan oleh seniorku dihadapanku sekarang. Dan saat aku dinyatakan lolos SNMPTN dibidang yang aku pilih dengan beasiswa, betapa bahagianya aku. Aku hampir putus asa saat nenekku yang mengasuhku sejak kepergian kedua orang tuaku tak mampu membiayai pendidikanku yang lebih tinggi lagi. Namun, aku selalu berdoa dan berjuang demi melanjutkan pendidikanku ini. Dan sampai akhirnya aku mendapatkannya, aku hampir mengundurkan diri dari perlombaan ini. Karna dirimulah, aku mampu sampai akhirnya aku bisa memanangkannya. Ibnu Muhammad Ilyas, seniorku semester tujuh pendidikan matematika yang sekarang lagi menyusun skripsi. Dialah yang tak pernah berhenti untuk menemaniku saat lomba berlangsung, dia juga motivator yang luar biasa yang mampu menghapus kata lelah, aku gak bisa, bahkan kata tak mungkin aku bisa memenangkan perlombaan, yang selalu menghantuiku didalam benakku. Terimakasih kak Ibnu Muhammad Ilyas, berkat kenyakinanmu itu aku bisa dan mampu memenangkan ini. Dan kata Terimakasihku juga kepada nenekku yang berhalangan hadir, yang telah merawatku hingga aku tumbuh menjadi sosok manusia yang kuat. Meski selalu aku rindukan belaian tangan ibu yang lembut, serta belaian tangan kekar sang ayah".  Kata penutupku kepada audience.

" Assalammualaikum ifah,"
"wa'alaikumsalam kak ilyas."
"Wahh, pidatomu sangat bagus fah... kaka sampai terharu".
"Hahaha kak ilyas terharu karna ifah menyertanamakan kak juga,,, bukan"
"Wowwwww, ifahnya kak ilyas ternyata cerdas juga,,,"
"Ahh, kak ilyas jangan kebanyakkan muji ifah mulu... Nanti ifah terbang kak", lalu aku cemberut.
"Yah, ko jadi cemberut, senyum dong... masa mahasiswa yang memenangkan perlombaan Olimpiade Matematika, jadi cemberut".
Lalu aku tersenyum.
"Ifah, ikut kaka yuk.." menarik tanganku
"Mau kemana kak?", tanpa bisa menolak
Sampailah aku disebuah tempat nan indah sekali, sampai aku tak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata.
"kak ilyas,,," dengan mulut yang terbuka. "ini tempat apa kak,, indah banget.."
"kamu suka ifah?..." tanpa menunggu kata-kata kak ilyas, aku langsung menganngguk secepat kitat. Bahkan lebih dua kali, bukan seribu kali lebih cepat dari kilat yang ada.
Kami berdua menikmati pemandangan yang ada dihadapan kita, sebelum pada akhirnya kak ilyas menjelaskan kenapa dia mengajakku ke sini.
"ifah," kata-kata kak ilyas berhenti,
"iya kak, kaya ya kak ilyas mau berbicara hal penting deh." aku menatapnya
Ia menatapku kemudian,,,
"ifah, sebenarnya aku... aku udah lama pendam semuanya, namun ku rasa aku tak sanggup lagi untuk menunggu. Aku tahu kalau kamu masih kuliah, namun.... ifah aku mencintaimu ifah, akhirnya keluar juga kata itu".
Aku terdiam dengan apa yang kak ilyas lontarkan,
"kak ilyas..."
"Hanifah Jauza Asna, maukah kau melengkapi separo hidupku yang hilang. Melengkapi sosok ibu untuk anak-anakku kelak, mendidiknya dengan cinta serta pengetahuanmu, maukah kau melengkapi semua itu ifah?".
Lalu aku menetapnya, aku melihat ketulusan cinta yang terpancar dari matanya. Melihat keseriusannya dari cara ia memintaku.
"kak ilyas, sebenarnya ada rahasia yang aku sembunyikan sejak dulu. Sebuah rahasia yang terus mengganggu setiap saat, rahasia yang kadang membuat aku bingung harus bagaimana untuk menjelaskannya juga. Ibnu Muhammad Ilyas, aku.... aku juga mencintaimu sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Tatapan matamu yang selalu membuatku bingung untuk menafsirkannya, tatapan matamu yang tak mau hilang dari benakku. Meski aku telah merahasiakannya darimu, namun aku selalu tertangkap salah tingkah sampai kamu juga mengetahuinya".
"uhhh sebenarnya aku juga tahu itu. Hanya aku gengsi aja kalau sampai aku memintamu tanpa mengetahui kepastian, namun sekarang tidakkk ifah, aku tidak gengsi lagi untuk mengungkapkannya kepadamu lagi. Dan aku akan mengungkapnya setiap hari saat besok kita menikah".
"Apa besok.."
"iya, aku telah menyiapkannya jauh sebelum aku memintamu. Jadi maukah... Yah kalau gak mau aku cari yang lain".
"jangaaaannnnn, aku mau"
Dan akhirnya mereka menikah.

****

4 komentar:

  1. Balasan
    1. kak yunus semua orang pasti akan menikah bukan, di bilang ini nyata atau engga hanya qisti hanifahlah yang tahu. :D karna ini pribadi.. hehehe

      Hapus
  2. Balasan
    1. Alhamdulillah deh, jadiin pelajaran yak... hakikatnya ketika kita mencintai seseorang, maka alangkah indahnya lansung datang kepada walinya dan meminta izin untuk menikahi putrinya. Hahaha,,,.

      Hapus