Jumat, 25 November 2016

cerpen 3 inpirasi

Takbir Cintaku

"Akhi tunggu,,,", sahutku dari belakang
"Iya, ukhti ada apa?"
"Bukankah acaranya akan dimulai, akhi?"
"Iya benar, ukhti, lalu?"
"Lalu mengapa kau pergi disaat acaranya akan dimulai akhi",
Ia tersenyum, "Ukhti aku ingin pergi sebentar untuk membelikan makanan ringan untuk para hadirin, karna tadi aku melihat akhi habibi sedang kesulitan mencari orang untuk membelikan makanan ringan. Jadi aku menawarkan diri untuk membantu membelikan makanan ringan untuk para hadirin. Apa ukhti Khansa mau menitip sesuatu, InsyaAllah akan saya belikan..."
"Syukron, akhi... saya tidak ingin membeli sesuatu"
"kalau gitu saya minta izin untuk pergi, Assalammuaikum,"
"Wa'alaikumsalam akhi".
Dia berlalu, namun banyangannya masih bertahan disini, bahkan lebih nyata dibandingkan tadi. Ya Allah, maafkanlah aku yang telah menduakan cinta-Mu. Aku yang telah membagikan cintaku, selain pada-Mu lagi. Ya Allah, aku mencintainya. Namun aku tak berani untuk memintanya untuk menikahiku, aku teramat takut untuk mendengar penolakkannya.
"Ukhti Khansa,,"
"Ukhti,,,,"
"Ukhti,,"
"Ukhti,," membangunkanku dengan sentuhan tangan, sampai aku kaget dibuatnya.
"Iya ukhti ira, ada apa?"
"Ukhti melamun kah?"
"Ahhh, tidak,,, tadi hanya sedang berpikir saja... kenapa ukh". sebisa mungkin aku menyembunyikannya,
"Bisa bagikan air minum kepada para undangan? Karna acara akan segera dimulai.. Dan oh iya, anti melihat Akhi Fakhri. Tadi kata Akhi habibi dia membelikan makanan ringan yang kurang",
"Iya ukhti tadi aku menyapanya sebelum dia pergi, kalau begitu saya mau bagikan air minum kepada peserta seminar dulu,,"
"Ukhti ira... bisakah selesai acara seminar saya bertemu ukhti? ada sebuah masalah yang harus saya tanyakan kepada ukhti, siapa tahu Allah memberi saya jalan lewat nasehat ukhti..."
"Iya, insyaAllah saya akan menemui anti nanti",
"Terimakasih ukh,,, Assalammu'alaikum",
"Wa'alaikumsalam", Ukhti khansa berlalu.
Sepertinya ada masalah yang serius yang sedang ukhti khansa alami sekarang. Semoga Allah melindunginya dari gangguan syaiton dan dikuatkan untuk selau istiqomah di jalan-Mu... Ya Robbi, Aamiin.
Selesailah acara seminar tentang "Membangun Cinta pada Landasan Al-Qur'an dan Hadist".
Ukhti ira sudah menunggu ukhti khansa datang, seperti janjinya sebelum acara seminar dimulai. Dengan tergesa-gesa Khansa menggerakkan kedua kakinya lebih cepat, ia sudah terlambat 5 menit dari janji yang ia buat tadi.
"Assalammu'alaikum ukhti, afwan saya terlambat".
"Wa'alaikumsalam ukhti, tidak apa... mungkin saya yang terlalu bersemangat untuk bertemu kamu..",
"duduklah, biar ngobrol kita jadi enak. Anti mau minum apa?"
"Apa sajalah, saya ikut saja pesananmu",
"baiklah,". Ukhti ira mulai memanggil pelayanan restoran, dan mulai memesan. "Nah, ukh kedatangan saya kesini atas permintaan kamu. Sekarang ceritakan apa yang membuat kamu sampai ingin sekali berbicara kepada saya, ada apa khansa?",
"Ira sebenarnya ada satu pemuda yang amat aku inginkan untuk ku jadikan dia imam dalam rumah tangga, namun aku bingung ira bagaimana aku mengungkapkannya. Ira tolonglah aku,, disatu sisi kita masih sama-sama menempus s1, namun disisi lain aku tak bisa lagi menunggu waktu yang lama itu... waktu dimana kita sama-sama diwisuda ra, tolonglah aku ra,,, aku bimbang sekali ra dengan kondisiku ini".
Ira tersenyum sambil menarik napas secara bersamaan, "khansa masalahmu itu sepele, kau hanya tinggal mengungkapkannya sama pemuda itu..."
"Tapi gak semudah itu ra, aku hampir mati setiap kali aku melihatnya baik di kelas maupun di organisasi",
"Apa aku mengetahui nama pemuda itu khansa..",
"Iya kau sangat mengetahuinya ra, bahkan kau sangat akrab dengannya",
"Siapa nama pemuda itu khansa? beritahu aku mungkin jika aku mampu untuk membantumu akan ku bantu kau dengan segenap usahaku",
"Namanya,,,,,", sejenak berhenti. "Namanya Muhammad Fakhri khairullah",
"Subhanallah khansa, kau menyukainya", dengan ekspresi kaget tak percaya
"Iya ukhti dialah pemuda yang selama ini sering aku perhatikan, ira bagaimana caraku menyampaikan suara cintaku padanya.. ira aku hampir putus asa,,"
"Khansa apa kamu serius..". Pertanyaan yang membuatku bingung, sampai aku membuka mulutku karna aku tak percaya bahwa Ira menganggapku bercanda.
"Demi Allah ira aku mencintainya dan mengingkannya untuk menjadi imam buatku serta anak-anakku, ira apa kau tak percaya padaku?",
"Ehhhhh, khansa aku percaya padamu hanya,,,, aku memastikan saja kalau kamu benar-benar mencintai fakhri", dia tersenyum. Sebuah senyuman yang tak bisa ku tafsirkan apa maksud dan tujuannya itu.
 "Jadi,,,,"
"Jadi aku insyaAllah akan membantumu keluar dari kebimbangan hatimu itu",
"Benarkah, Alhamdulillah...",
"Kalau begitu ikut aku sekarang juga", dia menarik lenganku dan membayar minum yang tadi dia pesan, setelah itu dia mengajakku ke sebuah kafe kopi yang populer dikalangan mahasiswa. Kami berangkat dengan angkutan umum, disetiap perjalanan ira asyik sekali dengan ponselnya... sepertinya dia sedang merencenakan sebuah janji dengan seseorang. Namun, aku tak sampai hati, apabila menganggunya, jadi ku putuskan untuk diam saja. Itu lebih baik.
"Ukhti kita mau ngapain disini?",
"Menyelesaikan urasanmu,,"
"Dengan minum kopi, apa hubungannya ra...",
"Kamu rewel deh khansa, udah ikutin aja kata aku... oke",
"Baiklah, kalau begitu",
"Seakarang mari kita masuk..", aku hanya mengangguk saja. Sepertinya firasatku gak enak, pas aku masuk benar saja. Aku melihat akhi fakhri dan akhi habibi disana, tepat di tempat duduk yang ira kasih tahu. Ya Allah rasanya aku mau pergi saja sekita itu, namun tangan ira sudah meluncur secepat mungkin untuk mencegahnya.
"Assalammu'alaikum,". Ira memulainya terlebih dahulu,
Serentak mereka menjawab secara bersamaan,, "Wa'alaikumsalam ukhti ira dan ukhti khansa", aku sendiri hanya tersenyum saja disamping ira.
"Silahkan duduk ukhti, kami menunggu kalian dari tadi", sahut habibi
"Terimakasih", aku dan ira duduk secara bersamaan.
"Gini,,,, kedatangan aku dan khansa kesini untuk membicarakan soal yang serius sama kamu fakhri",
"Aku, loh emang ada apa ra sampai kamu ngajak aku dan habibi kesini",
"Bismillah, fakhri aku mau langsung berbicara tentang ini ke kamu, ku harap aku kau mampu menyelesaikan persoalan ini",
"Aku ra, kenapa aku?"
"Karna ini bersangkutan dengan dirimu fakhri",
"Baiklah akan ku dengarkan, dan kalau aku mampu akan ku bantu masalmu itu ra",
"Bukan masalahku fakhri, tapi dengarlah dulu ceritaku. Ada seorang gadis yang memintaku untuk datang kepadamu karna dia gak tahu lagi harus berbuat apa dengan hatinya yang selalu memanggil namamu disetiap harinya, memanggil namamu disetiap doanya, hanya namamu saja fakhri, dan hari ini dia datang dengan kekhawatirannya itu. Dia memintaku untuk menyelesaikan semua masalah hatinya itu, maka aku menghubungi kalian berdua. Mungkin aku sudah terus terang kepada habibi, namun aku bilang untuk merahasiakan ini dari dirimu fakhri. Agar kau dapat mendengarnya sendiri, lalu gadis itu memintaku untuk bilang kepadamu.... agar kau mau menikahinya, dia tahu bahwa dirimu masih semester 6. Tapi dia sudah tidak bisa menunggumu lagi fakhri, karna ia takut akan menodai cintanya dengan hal-hal yang dilarang oleh agamanya. Jadi menurutmu bagaimana fakhri?",
"Khem, sebenarnya saya sudah mencintai seseorang... saya takut apabila saya tidak bisa mencintai dia seperti dia mencintai saya ra". Mendengar perkataan itu hatiku terasa sakit, bahkan lebih sakit dari yang kubayangkan, aku berbisik pada ira. "Ira aku,,,, sudahlah kita pulang saja ra",
Ira berbisik ketelingaku, "Tunggu sebentar khansa aku mau dengar siapa perempuan yang dimaksud fakhri, tunggu sebentar saja",
"Tapi aku tak sanggup ra...". Ira tidak menghiraukan perkataanku
"Kalau boleh aku tahu siapa nama perempuan itu fakhri...",
"Perempuan itu sering sekali aku lihat, bahkan setiap hari aku berjumpa dengannya. Baik di kelas maupun di organisasi,,,,, perempuan itu bernama Nafi'ah Khansa",
"Allahhu Akbar" Aku dan ira bersamaan bertakbir, namun tidak untuk habibi. Sepertinya dia sudah mengetahuinya.
"Subhanallah fakhri,,, yang aku ceritakan padamu, perempuan itu bernama Nafi'ah Khansa fakhri",
"Allahhu Akbar, jadi kamu khansa", fakhri tak percaya
Aku hanya mengangguk pelan sambil berkata "Iya fakhri".
"Sekarang sudah jelas, nah fakhri kebimbanganmu sekarang terjawab dan kapan kamu akan mengkhitbahnya. Lalu menikahinya... sepertinya khansa tak bisa bersabar lagi fakhri", sahut habibi
 menggodaku.
"Secepatnya khansa".
Semuanya bertkbir pada-Nya untuk kejadian hari ini, kejadian saat dua insan saling menjaga cintanya demi mendapat Ridhonya Allah.

****


Rabu, 23 November 2016

cerpen 2

Pesan Cinta Untukmu

Inilah aku sekarang, berdiri dihadapan semua orang banyak sebagai salah satu mahasiswa yang memenangkan Olimpiade Matematika Nasional. Perkenalkan " Hanifah Jauza Asna" dialah mahasiswi dari latar belakang anak yatim piatu yang selalu berjuang untuk bisa memenangkan perlombaan yang selalu bergengsi dikalangan pelajar.
" Aku berjuang sampai detik ini hanya untuk kedua orang tuaku yang tlah tiada", ujarku di depan audience.
" Dulu aku hanya bermimpi, suatu hari aku bisa berdiri dihadap mereka. Bukan sebagai mahasiswa yang tak taat aturan, melainkan aku bisa berdiri sebagai mahasiswa yang mendapatkan penghargaan olimpiade matematika, seperti yang dilakukan oleh seniorku dihadapanku sekarang. Dan saat aku dinyatakan lolos SNMPTN dibidang yang aku pilih dengan beasiswa, betapa bahagianya aku. Aku hampir putus asa saat nenekku yang mengasuhku sejak kepergian kedua orang tuaku tak mampu membiayai pendidikanku yang lebih tinggi lagi. Namun, aku selalu berdoa dan berjuang demi melanjutkan pendidikanku ini. Dan sampai akhirnya aku mendapatkannya, aku hampir mengundurkan diri dari perlombaan ini. Karna dirimulah, aku mampu sampai akhirnya aku bisa memanangkannya. Ibnu Muhammad Ilyas, seniorku semester tujuh pendidikan matematika yang sekarang lagi menyusun skripsi. Dialah yang tak pernah berhenti untuk menemaniku saat lomba berlangsung, dia juga motivator yang luar biasa yang mampu menghapus kata lelah, aku gak bisa, bahkan kata tak mungkin aku bisa memenangkan perlombaan, yang selalu menghantuiku didalam benakku. Terimakasih kak Ibnu Muhammad Ilyas, berkat kenyakinanmu itu aku bisa dan mampu memenangkan ini. Dan kata Terimakasihku juga kepada nenekku yang berhalangan hadir, yang telah merawatku hingga aku tumbuh menjadi sosok manusia yang kuat. Meski selalu aku rindukan belaian tangan ibu yang lembut, serta belaian tangan kekar sang ayah".  Kata penutupku kepada audience.

" Assalammualaikum ifah,"
"wa'alaikumsalam kak ilyas."
"Wahh, pidatomu sangat bagus fah... kaka sampai terharu".
"Hahaha kak ilyas terharu karna ifah menyertanamakan kak juga,,, bukan"
"Wowwwww, ifahnya kak ilyas ternyata cerdas juga,,,"
"Ahh, kak ilyas jangan kebanyakkan muji ifah mulu... Nanti ifah terbang kak", lalu aku cemberut.
"Yah, ko jadi cemberut, senyum dong... masa mahasiswa yang memenangkan perlombaan Olimpiade Matematika, jadi cemberut".
Lalu aku tersenyum.
"Ifah, ikut kaka yuk.." menarik tanganku
"Mau kemana kak?", tanpa bisa menolak
Sampailah aku disebuah tempat nan indah sekali, sampai aku tak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata.
"kak ilyas,,," dengan mulut yang terbuka. "ini tempat apa kak,, indah banget.."
"kamu suka ifah?..." tanpa menunggu kata-kata kak ilyas, aku langsung menganngguk secepat kitat. Bahkan lebih dua kali, bukan seribu kali lebih cepat dari kilat yang ada.
Kami berdua menikmati pemandangan yang ada dihadapan kita, sebelum pada akhirnya kak ilyas menjelaskan kenapa dia mengajakku ke sini.
"ifah," kata-kata kak ilyas berhenti,
"iya kak, kaya ya kak ilyas mau berbicara hal penting deh." aku menatapnya
Ia menatapku kemudian,,,
"ifah, sebenarnya aku... aku udah lama pendam semuanya, namun ku rasa aku tak sanggup lagi untuk menunggu. Aku tahu kalau kamu masih kuliah, namun.... ifah aku mencintaimu ifah, akhirnya keluar juga kata itu".
Aku terdiam dengan apa yang kak ilyas lontarkan,
"kak ilyas..."
"Hanifah Jauza Asna, maukah kau melengkapi separo hidupku yang hilang. Melengkapi sosok ibu untuk anak-anakku kelak, mendidiknya dengan cinta serta pengetahuanmu, maukah kau melengkapi semua itu ifah?".
Lalu aku menetapnya, aku melihat ketulusan cinta yang terpancar dari matanya. Melihat keseriusannya dari cara ia memintaku.
"kak ilyas, sebenarnya ada rahasia yang aku sembunyikan sejak dulu. Sebuah rahasia yang terus mengganggu setiap saat, rahasia yang kadang membuat aku bingung harus bagaimana untuk menjelaskannya juga. Ibnu Muhammad Ilyas, aku.... aku juga mencintaimu sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Tatapan matamu yang selalu membuatku bingung untuk menafsirkannya, tatapan matamu yang tak mau hilang dari benakku. Meski aku telah merahasiakannya darimu, namun aku selalu tertangkap salah tingkah sampai kamu juga mengetahuinya".
"uhhh sebenarnya aku juga tahu itu. Hanya aku gengsi aja kalau sampai aku memintamu tanpa mengetahui kepastian, namun sekarang tidakkk ifah, aku tidak gengsi lagi untuk mengungkapkannya kepadamu lagi. Dan aku akan mengungkapnya setiap hari saat besok kita menikah".
"Apa besok.."
"iya, aku telah menyiapkannya jauh sebelum aku memintamu. Jadi maukah... Yah kalau gak mau aku cari yang lain".
"jangaaaannnnn, aku mau"
Dan akhirnya mereka menikah.

****

Minggu, 20 November 2016

cerpen



Sujudku hanya untuk-Mu


Langit terlihat iri pada kita mas, sepertinya mereka membutuhkan teman untuk berbagi. Layaknya aku dengan mu mas, takdir selalu berpihak pada kita, mas khalaf. Iya benar, aku kini telah menjadi teman hidupnya Abdullah Khalaf. Seorang yang telah mengikatkan aku dengan cinta yang suci, sesuci air wudhu yang menetesi kening ini di saat aku besujud di hadapan-Nya.  Tak pernah aku bayangkan bagaimana Tuhan menakdirkanmu untukku, kau ingat ketika kita bertemu, sebuah pertemuan yang singkat, namun bisa menguatkan cinta yang ada dihati ini. Dan pada akhirnya, kau mengkhitbahku. Serta menikahiku setelah tiga bulan kita mengenal. Terkadang aku tersenyum dilayar leptopku ini, bagaimana mungkin,,, hanya membutuhkan waktu tiga bulan saja kau dengan mantapnya menikahiku.


“sayang, kau dimana?”

“aku diruangan kerjamu, mas. Ada apa?”

“tidak” dia memelukku dari belakang.

“aku lapar sayang, bisa kah kita makan?”

“baiklah,” tunggu,,, dia menarik lenganku

“kamu lagi menulis tentang kita yah,”

“embbb, iya” tersenyum

“Mas, aku boleh tanya?”

“Silahkan,cantik”

“kau tidak marahkan padaku, jika aku menulis kisah kita”

“hahahaha, kenapa aku harus marah..”

“eh, aku lagi tanya serius nih”

“iya, aku minta maaf deh… Rianti aku sama sekali tak marah padamu, tentang hobimu itu. Sebelum aku memutuskan aku akan menikah denganmu, aku telah tahu apa kesukaanmu. Apa hal yang kamu tidak sukai dan lainnya yang ada pada dirimu. Serta aku telah meminta keputusan Robbku dalam sujudku disepertiga malam-Nya. Aku tak masalah dengan hal itu semasih kamu mampu menjaga apa yang seharusnya tidak boleh kau tulis dalam karyamu itu. Dan selama ini aku diam-diam membaca semua karyamu, dan aku tak pernah menemukan hal itu dalam karyamu. Lagi pula membahagiakan istri adalah kewajibanku rianti. Karna kamu adalah tanggungjawabku dunia dan akhirat, serta kamulah tempatku berbagi, setelah aku berbagi pada Allah. Sudah cukupkah penjelasanku, sayang.”

“Dengan tatapan penuh cinta-Mu ya Robbi, aku bersyukur Kau memberiku sosok suami yang aku butuhkan, sosok suami yang selalu berusaha membuatku bahagia, maka sanggupkanlah suamiku untuk selalu membahagiakanku untuk menuju syurga-Mu, Aamiin” . doaku dalam hati

“Rianti Salsabila, mengapa kau diam, apa ucapanku ada yang menyinggungmu. Ya Allah maafkan aku, sayang maafkan aku.”

“tidak, Mas.. aku hanya terharu saja.”

 Dia menatapku dengan cintanya, cinta yang selalu membuatku bahagia didekatnya. Serta selalu bersyukur kepada nikmat-Nya.

“mas, terimakasih telah menjadikanku seorang istri untukmu.”

“jangan berterimaksih padaku Rianti, tapi berterimakasilah kepada Allah. Karna dengan takdir-Nya lah aku kini bisa menjadi seorang suami untukmu.”

Kalau begitu, hayo kita makan. Perutku sudah kelaparan dan selesai makan, kita sama sama berterimaksih pada-Nya dengan bersujud kepada-Nya, atas nikmat yang sudah Allah berikan pada kita.

“baiklah”.



****

Sabtu, 19 November 2016

puisi

Doaku
 Wahai hati yang sedang berteduh
Apa kabar?
Ku harap kau juga baik
Lama mata ini tak bertemu
Andai langkah tak begitu jauh
Pastilah akan ku raih tanganmu
Oh, Tuhan...
Bisahkan dia mendengarku
Mendangarkan setiap rindu ini
Yang semakin hari memanggil
Tak perlulah kau khawatir,
Kekuatan doa cintaku bersamamu.


@pena qisti hanifah