Maka, aku tak salah apabila menjabarkannya seperti ini... bukan?
Aku mengalaminya saat dengan ketidak sengajaanku ini memegang tangan seorang laki-laki yang membutuhkan pertolongan. Awalnya aku ragu untuk menolongnya, namun entah darimana setan berasal yang berhasil mendorongku untuk menolongnya tanpa meminta izin terlebih dahulu. Setelah aku membantunya, aku merasakan keanehan dalam diriku yang berhasil aku sembunyikan dari orang sekitar, tapi melemahkan jiwaku ini. Iya, ada getaran beserta bayangannya secara tiba-tiba muncul dibenakku begitu saja, aku mulai resah. Namun, perasaan saat aku menyentuhnya masih terasa.
Ya Allah aku tahu ini bentu dari tipu daya setan yang begitu dahsyatnya hingga aku sendiri terpedaya oleh makhluk-Mu yang telah kau usir dari syurga.
Astagfirullah...
Aku menutup tulisanku diblog dengan istigfar. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ativitasku. Aku melirik jam dihandphone, puku 10.00 pagi. Masih ada sejam lagi sebelum aku masuk kampus dan bertemu dengan orang tersebut, desusku saat itu.
Aku berusaha sekeras mungkin untuk tidak mengingatnya sama sekali, dan menenangkan hatiku yang mulai kacau balau ini.
"Hai salsa? Tumben lama banget ke kampusnya.."
"Iya nih tumben banget si lu nyampe jam segini, biasanya paling giat lu ke kampus.."
"Ahhh gua tadi agak kurang sehat alya, nada.."
"Lah lu sakit sal? coba gua pegang keningnya", tangan nada memulai memeriksa.
"Gak apa ko salsa, suhu badan lu normal", nada masih membandingkan suhu tubuhku dengan suhu badannya.
"Yang bermasalah bukan badan, tapi perasaan aku yang gak tahu kenapa berubah nada.", Ujarku dalam hati.
Eh masuk-masuk anak kelas ini mulai meninggalkan ruangan. Pas aku berdiri aku berpasasan dengannya, dia tersenyum dhadapanku. Namun aku mengacuhkannya begitu saja. Pelajaran berakhir dengan cepat tanpa aku mengerti apa yang telah dijelaskan oleh dosen tadi. "Kacau kacau kacau sekali hari ini", aku hanya bisa berdiam.
"Woy salsa... lu kenapa sih? perasaan kemarin baik-baik aja deh.."
"Tahu lu kenapa sih sal? cerita napa sama kita.."
"Engga apa ko... udah tenang aja ya,,, slow ko."
"Oh iya gimana sama ta'aruf lu sama si hasan? Masih baik kan sal.."
Mendengar pernyataan nada, seperti aku mendengarkan hati seseorang sedang menjerit kesakitan.
"Ahh masih, masih ko nada..."
"Baguslah, inget loh. Mas hasan disana lagi menunggu kamu. jadi jangan macam-macam selama kuliah ya. Apalagi sampai kamu jatuh hati sama cowok disini.."
"BAHAYA", alya melanjutkan kalimat nada yang belum selesai.
Aku hanya menatap mereka dengan tatapan yang kosong," Mas hasan disana lagi menunggu kamu. jadi jangan macam-macam selama kuliah ya. Apalagi sampai kamu jatuh hati sama cowok disini...". Aku hanya menangkap kalimat itu saja dan mengulang-ulang kalimat itu dalam hatiku.
"Ayolah pulang, udah gak usah khawatirkan masalah itu... laper nih.."
Aku berusaha mengalihkan semua kegundahan hatiku dengan candaan mereka.."
****
Salsa..
Salsa..
Salsa..
Suara itu,..
"Eh sal, kaya ya ada yang manggil lu deh?", alya menengok ke arah belakang dan..... dugaanku benar.
"Eh ardi..."
"Hai alya, hai nada.. boleh gua bicara sama salsa?"
"Oh lu mau ngomong sama salsa... boleh boleh asl balikinnya nanti, hahahahah".
Sementara nada hanya menatapku heran. Nada memang selalu tahu apa yang gua rasakan.
"Yaudah gua ke Jempol duluannya, jangan lama-lama ar minjemnya.."
"Siap..."
Aku menatap nada yang mulai curiga. Mereka pun berlalu.
"Ada apa ar?"
"Yang kemarin terimaksihnya. Kalau gak ada lu mungkin kaki aku sekarang akan cedera lebih serius sal, kamu ternyata kuat juga bantu aku berdiri kemarin.", dia tersenyum dengan tulus.. dan permpuan manapun akan terpesona olehnya.
"Oh iya sama-sama, kalau begitu aku pergi dulu.."
Aku berlalu meski aku tahu ardi masih ingin bicara banyak padaku.
Hai..
Hai..
Dan hari itu aku menghabiskan waktuku bersama mereka.
Setelah selesai makan, alya pamit pulang karna pacarnya sudah tiba, pacar alya itu benar-benar sabar banget suruh jemput si alya. Apalagi kalau sifat marah-marah udah keluar. Tinggallah aku dan nada disini.
"Sal lu pilih Hasan apa Ardi?"
"Masudnya"
"Gua tahu lu diam-diam suka sama Ardi kan? udah gak usah bohong sama gua, lu gak bisa kaya begitu sal. Lu harus memilih satu dari dua pilihan. Lu gak bisa seperti itu sama Hasa sal, dia itu... sekarang lagi ta'arufan sama lu. Dia disana lagi jaga hatinya buat lu sal, kalau memang lu merasa lu gak cocok yaudah putuskan masa ta'aruf lu sama Hasan sekarang."
"Gua bingung da, gua juga gak tahu kenapa perasaan itu hadir ketika..."
"Ketika lu ta'aruf sama Hasan?, itu ujian salsa dalam istiqomah. Coba lu bayangkan berapa juta wanita yang menginginkan Hasan, tapi dia memilih lu bukan yang lain, dan kalu dia tahu orang yang sedang menjalankan masa ta'aruf dengannya menyimpan perasaan cinta sama orang lain? Gimana perasaannya salsa... sebenarnya lu mencintai Hasa gak sih? Istiqorohlah baru kamu putuskan semuanya."
****
Sepertiga malam aku membangunkan diri untuk menemukan jawaban dari semua kebimbangan diriku ini. Paginya aku mendapatkan jawaban dari kebimbanganku.
Aku menarik HP dan lansung menulis pesan kepada hasan yang bertuliskan bahwa mas hasan benar-benar serius sama salsa, maka malam ini datanglah kerumah beserta keluarga mas Hasan untuk mengutarakan niat baik mu untuk menikahi aku mas. Lalu, aku membuka leptop dan melanjutan tulisanku di blog.
Sekarang aku menemukan arti dari cinta itu, cinta adalah kemantapan hati akan pilihan yang kita ambil, cinta adalah rasa tanggung jawab ketika kita memantapkan dia sebagai psangan kita, cinta adalah ketulusan jiwa dalam menerima semua kekurangannya, cinta adalah sebuah janji yang hanya menjadikan dia satu-satunya orang yang kita pertahanin, dan cinta adalah ketika aku berbicara kamu telah menjadi bagian dari hidupku.
****