Kamis, 15 Desember 2016

Cinta pada Pandangan Organisasi

     Cinta pada Pandangan Organisasi

Hari ini entah mengapa aku ingin sekali membuka emailku, aku takut ada rincian agenda acara organisasi yang dikirim oleh aisyah kepadaku sebagai data yang harus aku laporkan kepada ketua nanti.
Ketika aku membuka emailku, aku terkejut ada sebuah email dari kak Ali. Ah, mungkin kegiatan kammil kemarin. Makanya kak ali mengirimku email, pikir ku saat itu. Ketika aku membacanya,
Assalammua'alaikum qisti hanifah,...
Apa kabar? Kak ali berharap Allah senantiasa melindungi qisti dari kejamnya dunia ini dan halusnya bisikkan syaiton, Aamiin.
Mungkin qisti kaget saat qisti melihat ada email dari kaka. Dan kak ali yakin qisti mengira bahwa kak ali ingin mengabarkan kegiatan kammil kepada qisti. Bukan qisti hanifah, bukan itu isinya. Dan sekarang kak ali tahu apa yang qisti tanyakan. Pasti qisti lagi tanya dalam hatinya, lalu apa kak ali? Benarkan?
Hehehe, Udah kak ali hanya bercanda ko qisti.
Oh iya kerja qisti kemarin bagus loh, coba aja qisti gak punya ide seperti itu. Uhhh kak ali yakin acara kita gatot deh...
Kamu bekerja dengan baik deh qisti, kak ali bangga sama kamu. Kalau begitu kak ali sudahi emailnya yaaa,
Wassalammua'laikum,....
Aku garuk-garuk kepala yang sama sekali gak terasa gatalnya. Kak ali mengirim email ke aku yang emailnya sendiri gak aku pahami apa isinya. Aku hanya berbicara pada diriku sendiri, kalau seandainya ada manusia lain disini... pastilah aku jadi bahan omongan mereka, karena sudah gila.
Aku membalasnya,,,
Wa'alaikumsalam kak ali.
Alhamdulillah qisti baik, terimakasih atas doanya. Semoga Allah mengabulkannya.
Kak ali mengirim email ke qisti hanya ingin mengucapkan terimakasih kak? Kak ali, qisti hanya melakukan apa yang memang seharusnya qisti lakukan. Tidak lebih dari itu kak, kak ali lebay nih😂😂.
Lagi pula kak, sebagai penanggungjawab acara maulid kemarin sudah kewajiban qisti untuk melancarkan acara tersebut. Sekali lagi terimakasih atas pujian kak ali, tapi jangan kebanyakkan memuji mulu. Nanti atap kamar qisti bolong nih, karna qisti terbang kak...
Sekian,,, wassalamua'alaikum kak.
Ke esokkannya, saat aku ingin sholat dzuhur sebelum ngampus, aku berpapasan dengan kak ali. Dan spontan dia memanggilku.
"Qisti", "Assalammua'alaikum,,,".
Aku tersenyum dan membalas salamnya, " Wa'alaikumsalam kak ali".
"Hari ini ada mata kuliah yaaa?"
"Iya kak, ada apa?"
"Sampai jam berpa qisti?"
"Sekitar jam setengah enam kak, ada apa kak ali? Apa ada kegiatan kammil?"
"Ahhhh... kamu ini qisti, setiap kaka tanya sesuatu ke kamu, pasti tanya baliknya. Apa ada kegiatan kammil kak?"
"Lah kak ali ini gimana sih,,, kan kaka ketua kammilnya. Kalau kak ali tanya sesuatu.... pasti ada kaitannya dengan organisasi kammil kan?"
"Kamu ini lucu deh qisti, yaudah jangan diperpanjang yaaa... qisti nanti malam ada acara?"
"Alhamdulillah engga kak,?
"Alhamdulillah, berarti qisti bisa ikut kaka dong?"
"Hayooo mau kemana kak? Jangan jangan....."
"Hey, berpikirnya... engga kak ali mau ngajakkin kamu ke rumah?"
"Wahhh mau makan makan yaaa, boleh kak lumayan ada gratisan makanan. Hitung-hitung menghemat uang saku anak kostsan nih.." aku tertawa meskipun sama sekali tidak di izinkan ketawa.
"Dasar kamu ini pikirannya makan mulu, tapi kayanya mungkin bisa membantu juga kali yaaa". Kak ali pun tertawa...
"Baiklah kak kalau begitu, qisti mau sholat dulu sebelum masuk kuliah"
"Oke, nanti kak ali jemput kamu di kostsan pake mobil. Biar bisa menjaga jarak antara kaka dan kamu".
"Baiklah, terserah kaka aja".
Percakapan kita pun berakhir di sini.
Tepat jam 7 malam kak ali menjemputku dengan mobilnya, sekira aku itu hanya bercanda,,,, ternyata benaran. Aku meminta 10 menit kepada kak ali untuk menunggu, karna aku belom siap-siap. Dan akhirnya kita berangkat, aku sempat bimbang mau duduk dimana. Seandainya aku duduk di belakang aku merasa aku seperti ratu. Dan aku putuskan untuk duduk di depan saja.
Sesampai di rumah kak ali, aku langsung disambut hangat oleh ibunda kak ali. Aku semakin bingung, sebenarnya ada apa ini?.
Kami makan malam dan sampailah ketitik pembicaraan intinya.
Dan betapa kagetnya aku mendengar pernyataan ibundanya kak ali. Yang
Mengatakan bahwa kak ali ingin mengkhitbahku dan sekaligus bisa mendampingi putranya itu pada saat wisuda nanti.
Ya Allah, aku menangis hari ini. Aku gak pernah membayangkan bahwa aku akan dikhitbah sama ketua organisasi islam di kampus.
Aku belom menjawabnya karna bimbang, aku meminta waktunya untuk bisa mendiskusikannya dengan Allah. Karena aku masih semester 6, sedangkan kak ali sudah mendapatkan sarjana s1nya bulan mei nanti.
Dan akhirnya aku memutuskan untuk meminta pendapat kepada ibu dan bapak di kampung, aku menelponnya dan menjabarkan siapa kak ali sebenarnya kepada ibuku. Serta bagaimana pekerjaannya, akhirnya mereka setuju. Aku pun meminta pendapat kepada Robbku, dan Allah menjawab "iya" dengan mimpi-Nya untukku. Setelah memantapkan diri, aku mengambil langkah untuk mengabari kak ali kapan mau menemui ibuku di kampung, dan kak ali mengatakan hari ini juga qisti hanifah.
Kami berangkat ke kampungku di yogjakarta dan di sana juga aku memadukan cinta dengan pemuda yang bernama lengkap Ali Muhammad Ridwan dalam ikatan pernikahan.
   
                                 ****